Seri Pencerahan Budi: Dia Tak Bersalah dan Dia Anakku


Jika aku yang bersalah ini saja masih kalian terima, apalagi dia yang tak bersalah sedikitpun.

oOoOoOoOoOoOoOo

Love me...

Setiap peristiwa dalam perjalanan hidup adalah sebuah pembelajaran. Baik buruknya suatu pilihan atau keputusan yang diambil, selalu ada hikmah dibalik itu.

Demikian pula halnya dengan seorang gadis belia yang saat itu masih duduk di bangku SMA. Pergaulan yang tanpa kendali menyebabkannya harus menerima kenyataan bahwa dia telah hamil diluar nikah. Ironisnya lelaki yang telah menghamili dia adalah tetangganya yang sebenarnya tidak dicintainya. Kemungkinan semua ini terjadi hanya berdasarkan suka sama suka, pemenuhan nafsu belaka, apalagi kedua remaja tersebut masih terbilang belia. Hal ini diperkuat dengan pengakuan sang gadis kepada orangtuanya dimana dia menolak untuk dinikahkan dengan pria tersebut dengan alasan dia tidak mencintainya meskipun dia telah mengandung janin dari pemuda tersebut.

Dapat dibayangkan bagaimana reaksi orang tua ketika mendapati anak gadisnya telah hamil diluar nikah. Syukur puji Tuhan meski malu dan marah mendera di hati kedua orangtua sang gadis, namun mereka masih dapat mengambil keputusan yang bijak dengan tidak melakukan aborsi atas janin yang dikandung sang anak. Kedua orang tua sang anak sepakat untuk menitipkan sang anak ke sebuah panti atau yayasan yang bersedia mengadopsi bayi-bayi tak berdosa yang karena satu dan lain hal tak ingin dipelihara oleh orang tua kandung sang bayi.

Atas petunjuk dan bantuan dari kenalan keluarga tersebut, maka berangkatlah mereka ke panti tempat penampungan bayi-bayi tak berdosa dengan tujuan menitipkan sang anak hingga melahirkan dan kelak bayi tersebut akan diberikan kepada panti tersebut untuk diadopsi. Ini semua dilakukan untuk menutupi aib keluarga.

Setibanya di panti tersebut, kedua orangtua berunding dengan pengurus panti dan setelah disepakati aturan main yang berlaku maka perjanjianpun ditandatangani oleh orangtua, sang anak, saksi dari kenalan keluarga tersebut, dan pengurus panti itu sendiri. Dalam perjanjian itu disebutkan bahwa sang anak akan tinggal dipanti hingga kelak melahirkan dan bayi yang dilahirkan akan dititipkan di panti tersebut untuk kelak diadopsi oleh keluarga yang membutuhkan kehadiran seorang anak.

Tak terasa sembilan bulan berlalu dan keluarga sang anak menerima kabar jika anak gadis mereka telah melahirkan dengan selamat seorang bayi laki-laki. Tiga minggu setelah kelahiran bayi itu, sang orangtua memutuskan untuk menjenguk dan menjemput anak mereka sesuai dengan perjanjian yang telah dibuat dahulu. Kali ini merekapun didampingi oleh kenalan mereka yang kala itu turut menjadi saksi perjanjian tersebut. Selama dalam perjalanan menuju panti, hamper tidak ada pembicaraan. Tentunya semua sibuk dengan pikirannya masing-masing tentang kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi. Seperti apa bayinya? Apa yang akan dikatakan nanti setelah saling bertemu? Sanggupkah kedua orangtua tersebut melihat bayi yang merupakan cucu mereka sendiri? Bagaimana dengan sang anak sendiri setelah tiga minggu bersama bayinya? Pertanyaan-pertanyaan yang tentu saja belum ada jawabannya.

Sesampainya di panti, kedua orangtua dan sang anak saling melepas rindu dan bertangis-tangisan. Lalu sang anak memohon maaf kepada kedua orangtuanya atas segala kesalahan yang telah diperbuatnya. Dia merasa sangat bersalah dan merasa diri telah mempermalukan orangtua. Bahkan ia merasa tak pantas lagi disebut anak oleh kedua orangtuanya.

“Pak, Mak, aku sudah bikin malu keluarga; apakah kalian masih sayang aku?” tanya sang anak kepada orangtuanya.

“Biar bagaimanapun kamu tetap anak kami dan kami masih sangat sayang kamu,” jawab sang bapak. Si ibu tak mampu menjawab sedikitpun, hanya mampu menangis sejak pertemuan itu.

“Tapi aku sudah bikin kalian susah, aku ndak pantes lagi jadi anakmu, ” kata sang anak lebih lanjut.

Bapaknya pun tak kuasa menahan tangis. Dia memeluk anaknya sambil berkata, “Baik buruknya kamu takkan menghapus kenyataan bahwa kamu adalah anak kami, nak. Kami ikhlaskan semua yang telah terjadi, kita akan pulang, semua sudah berakhir; masalahmu sudah selesai”

Sambil menunjuk bayi yang sedang tidur di boks bayi, sang anak berucap, “Pak, Mak, aku berubah pikiran. Kalau bapak dan mak saja masih menerima aku yang sudah bersalah ini, apalagi aku dan dia ini. Dia anakku, Pak, anakku sendiri. Dia ndak salah apa-apa. Kalau bapak dan emak ijinkan, aku akan bawa dia pulang. Tapi jika ndak boleh, aku mau di sini untuk merawatnya sendiri.”

Mendengar pernyataan ini, seketika sang ibu pingsan. Tapi ia segera siuman, setelahnya ia hanya mampu terduduk dengan lemas. Ia sangat terkejut dan tidak menyangka anaknya akan berubah pikiran seperti ini.

Sang bapak berusaha untuk tetap tabah dan sabar, lalu bertanya kembali, “Maksudmu gimana, nduk? Bagaimana nanti, apa kata orang tentang keluarga kita?”

Mendengar pertanyaan ini, sang anak terlihat sudah mempersiapkan jawabannya sehingga dengan penuh keyakinan dia menjawab, “Pak, aku sudah siap, aku akan jujur mengakui. Lebih baik aibku segara terungkap, terserah orang membicarakannya. Toh aku juga tidak akan menyangkalnya. Mungkin dengan ini masalah malah segera selesai, dari pada kita tutup-tutupi, tapi toh akhirnya terbongkar juga. Tapi kalau bapak merasa tidak sanggup menghadapi pergunjingan orang, biarkan aku di sini. Aku sudah bicara dengan suster mau kerja di sini. Dan kesepakatan anak untuk diadopsi aku batalkan, karena aku tidak mau berpisah dengan anakku.”

Sang bapak hanya bisa terdiam dan mengangguk-angguk mendengar jawaban dan ketegasan putrinya. Ia sadar bahwa apa yang dikatakan putrinya adalah benar adanya. Oleh karena itu ia berusaha memberikan pengertian kepada istrinya bahwa apa yang diputuskan oleh putri mereka benar adanya. Tapi ia masih memberi kesempatan kepada istrinya untuk memilih apakah akan membawa pulang cucu atau tidak, dan berarti juga pulang tanpa putrid mereka. Tanpa berkata sedikitpun, si ibu menghampiri sang bayi dan menggendongnya sambil menangis. Nalurinya sebagai seorang ibu tentu membuat dia mengerti dan menerima keputusan putrinya. Adapun pingsannya tadi akibat ia terkejut dan tak menyangka akan keputusan putrinya yang berubah itu.

Setelah kedua orangtua dan sang putri sepakat untuk membawa sang bayi pulang bersama mereka, maka perundingan lanjut dilakukan dengan pihak panti. Pada prinsipnya, pihak panti sangat mendukung keputusan tersebut karena tujuan utama mereka adalah justru agar sang bayi dirawat sendiri oleh ibu kandung mereka, meski pada banyak kasus yang mereka tangani hal ini hampir tidak pernah terjadi. Bisa jadi keputusan sang putri yang berubah ini tak lepas dari pengaruh pengurus panti agar setiap janin yang tumbuh dalam rahim seorang ibu, terlepas apapun alasannya, tetap dihargai dan dicintai sebagai suatu mahakarya Tuhan yang tak ternilai harganya. Setiap janin mempunyai hak untuk hidup, berkembang, dan dicintai, apalagi ia tak bersalah apa-apa.

Setelah semua urusan dengan pengurus panti selesai, maka mereka segera memutuskan untuk kembali pulang pada hari itu juga. Dalam perjalanan pulang itulah sang anak bercerita bagaimana ia sampai pada keputusan untuk merawat bayinya sendiri. Pada hari ketiga ia berada di panti tersebut ia menemani suster yang membantu salah seorang gadis di panti tersebut yang bernasib sama seperti dirinya untuk melahirkan. Ketika bayi tersebut lahir, ia melihat betapa manisnya bayi tersebut. Tanpa sadar dia bertanya dalam hati akan seperti apa rupa anaknya nanti. Ia terkejut ketika mengatakan anakku. Ya, dia akan melahirkan bayi, dan itu adalah anaknya sendiri. Kata-kata itu, terus terngiang di benaknya. Sejak itu ia merenungkan bahwa ia akan melahirkan seorang bayi, dan bayi itu adalah anaknya, drah dagingnya sendiri, bukan anak orang lain. Dan ia memperpanjang renungannya dengan membayang-bayangkan bagaimana nasibnya dan nasib anaknya nanti kalau jadi berpisah. Akankah suatu ketika bertemu kembali dan saling mengenali?. Akan tahukah dia bahwa ia anak adopsi? Sebuah pergulatan batin yang menghantarnya sampai pada keputusan akan membatalkan kesepakatan anaknya akan diadopsi dan ide untuk menyampaikan ini pada orang tuanya. Semula ia ingin menulis surat karena dilandasi rasa takut menghadapi kemarahan orang tuanya. Tapi akhirnya ia putuskan harus berani menyampaikannya langsung kepada mereka. Suasana perjalanan pulang terasa sangat berbeda. Semua terasa damai dan penuh kelegaan. Tentu saja, sebab sebuah keputusan besar telah diambil. Walau mungkin sangat berat, tapi mereka merasa akan siap menghadapi segala resikonya.

Setibanya di rumah mereka, jam telah menunjukkan jam 9 malam. Si bapak langsung menghubungi dan mengundang tua-tua desa dan pemuka agama setempat untuk berkumpul karena beliau ingin menjelaskan keadaan mereka serta putrinya. Dibantu oleh salah seorang pemuka agama setempat, yang telah lebih dahulu diberitahu masalah ini, dijelaskanlah keadaan mereka yang sebenarnya serta keputusan yang telah mereka buat. Mendengar ini mereka yang berkumpul sangat terkejut dan terheran-heran, namun berkat bantuan penjelasan dari pemuka agama tersebut maka keputusan keluarga tersebut dapat diterima dengan baik.

oOoOoOoOoOoOoOo

Tulisan ini adalah hasil kolaborasi dan diangkat berdasarkan kisah nyata dari seorang kompasianer yang menjadi saksi dalam peristiwa tersebut. Kejadian ini terjadi di sebuah desa di perbatasan propinsi Lampung dan Sumatera Selatan.

*Gambar diunduh dari Photobucket


Thanks in advance either for having left a reply or liked my post :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s