“Kamu manis, kataku.”


“Halo, siapa namamu?” tanyaku kepada seorang gadis hitam manis dihadapanku.

“Kania, kak,” jawabnya pelan sambil tertunduk.

“Nama yang indah,” bisik hatiku.

Itu adalah awal perkenalan kami saat masa orientasi penerimaan mahasiswa baru di kampus kami. Sebuah awal yang indah.

Kami mengambil program studi yang sama yaitu elektronik. Aku memasuki semester kelima saat itu dan Kania adalah mahasiswa baru. Aku beberapa kali membantu Kania dan kawan seangkatannya dalam kegiatan belajar kelompok.

Selain sering terlibat dalam kegiatan belajar kelompok bersama-sama, kami pun aktif pada beberapa kegiatan ekstrakurikuler kampus. Akupun pelan-pelan memperkenalkan dan mengajarkan Kania kegiatan-kegiatan tentang organisasi kemahasiswaan.

“Ah, namamu tidak hanya indah, Kania, tapi juga hatimu,” suara hatiku berbisik.

Kusadari saat itu kalau kebersamaan kami telah membuat kami mengetahui pribadi masing-masing lebih dalam. Dan dia ternyata telah mencuri sekeping hatiku.

“Sayang, kamu belajar yang tekun ya. Usahakan selesaikan kuliahmu tepat waktu. Aku akan berusaha keras mendapatkan pekerjaan yang layak dan mapan, agar kelak kita bisa mewujudkan mimpi kita bersama-sama,” ujarku kepada Kania.

Itu adalah pesan dan janjiku kepadanya saat aku selesai diwisuda pada tahun kelima masa kuliahku. Syukur puji Tuhan bahwa aku tak perlu menunggu terlalu lama untuk mendapatkan sebuah pekerjaan. Aku bekerja pada sebuah perusahaan elektronik swasta di daerahku dan karirku cukup bagus disana. Perlahan tapi pasti posisiku menanjak ke jenjang yang lebih tinggi.

Mengingat usiaku yang masih muda dan potensi yang ada dalam diriku, pihak kantor memutuskan untuk mengirimkan aku ke luar negeri untuk sebuah training singkat selama enam bulan. Itu adalah menjelang tahun ketiga aku bekerja dan saat itu adalah saat dimana Kania sedang mempersiapkan diri untuk sidang sarjananya.

Berbekal lamanya masa pacaran kami berdua dan hubungan kedua keluarga yang sudah cukup dekat, akhirnya aku memutuskan untuk melamar Kania sebelum keberangkatanku ke luar negeri. Ada tenggang waktu kurang lebih tujuh bulan setelah sidang sarjana Kania dan sebelum rencana keberangkatanku ke luar negeri.

Hari bahagia yang dinantipun tibalah. Segala keperluan telah dipersiapkan dengan baik, demikian pula halnya dengan persiapan di gereja. Karpet putih terbentang sepanjang pintu depan gedung gereja hingga ke altar. Aneka kembang menghiasi gereja dengan semerbak harum dan warna-warninya: lily, mawar, anggrek, chrysanthemum, dan aneka kembang lainnya. Memang hari itu dibuat sangat khusus karena hari itu adalah hari bersejarah buat kami berdua.

Aku mengenakan sebuah tuxedo hitam. Aku menunggu Kania di dalam gereja. Jika biasanya calon pengantin pria menunggu pengantin wanitanya di depan altar, kali itu berbeda. Aku menunggu Kania di depan pintu gereja sebelum menuju ke altar, karena aku ingin berjalan bersamanya menuju ke depan altar. Seikat kembang mawar putih berada dalam genggamanku.

Teng….teng….teng….lonceng gereja berdentang, tanda Kania telah tiba. Umat di dalam gedung gereja serentak berdiri. Jantungku dag dig dug berdegup kencang. Tak sabar ingin melihat wajah Kania dengan gaun putihnya yang anggun.

Sebuah kereta mendorong Kania memasuki gedung gereja. Aku menyambutnya. Kudekati dia.

“Kamu manis, Kania, kataku. Percayalah. Meskipun kamu harus terbujur kaku dalam peti ini disaat kita seharusnya mengucapkan janji setia kita. Kamu manis, kataku.” Dan kusisipkan mawar putih itu ke dalam peti matinya.

19 thoughts on ““Kamu manis, kataku.”

  1. Pingback: “AKU MAU KAMU, TITIK.” | Ingset's Blog

  2. hm… keren. tapi menurutku, harusnya ada sedikit keterangan tentang kenapa dia mati. sekedar bayangan, bahkan sekedar untuk mengajak pembaca menebak-nebak…

    • hehehehehe…terimakasih kritik dan sarannya ya, mbak🙂

      tentang mengapa dia mati, saya serahkan saja pada imajinasi pembaca🙂

      apa penyebab kematiannya sudah mengajak pembaca menebak-nebak…😀

      terimakasih sekali lagi🙂

Thanks in advance either for having left a reply or liked my post :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s