“AKU MAU KAMU, TITIK.”


Dhaniati, Naim, dan Aris. Tiga orang sahabat sejak mereka sama-sama berada di bangku sekolah menengah atas, sepuluh tahun yang lalu. Kebersamaan yang begitu dekat hingga mereka menamakan diri mereka kumpulan tiga sekawan. Dhaniati merasa sangat beruntung mempunyai dua sahabat setia yang bertindak seperti malaikat pelindung baginya.

Walau tiga sekawan itu telah membuat peraturan tentang larangan terlibat hubungan asmara diantara mereka bertiga, namun sinyal-sinyal cinta itu tak terhindarkan jua, seperti yang terjadi antara Dhaniati dan Naim. Hal ini sempat mengganggu hubungan persahabatan diantara ketiganya.

Naim terkadang tak dapat menyembunyikan rasa cemburunya tatkala dia tidak bisa memenuhi permintaan bantuan Dhaniati karena waktu yang tak mengijinkan dan Aris yang harus menggantikannya. Andaikan mereka bertiga hanya sebatas sahabat seperti dulu sebelum dia dan Dhaniati menjalin kisah cinta, tentu hal tersebut hal yang biasa saja. Tapi sekarang situasinya berbeda. Dia adalah lelaki normal dan Dhaniati adalah kekasihnya.

Sementara Aris dipihak lain juga terkadang merasakan kecemburuan kala menyaksikan kemesraan kedua sahabatnya. Namun semua hanya mampu dipendamnya dalam hati. Dia tidak ingin menjadi perusak hubungan mereka.

Lalu bagaimana dengan Dhaniati? Terkadang ada rasa jengkel yang berlebihan tatkala Naim dan Aris menghabiskan waktu bersama tanpanya, karena mereka lebih memilih melakukan kegiatan maskulin mereka tanpa Dhaniati.

Begitulah kisah seputar kumpulan tiga sekawan itu hingga mencapai puncaknya pada suatu masa. Saat itu hubungan Naim dan Dhaniati mulai renggang dan pertengkaran demi pertengkaran cukup sering hadir diantara mereka. Dhaniati merasa Naim mulai menjauhinya. Ia mencurigai Naim telah bermain mata dengan perempuan lain. Hal ini diadukannya kepada Aris dengan harapan dia dapat mendapatkan keterangan yang lebih banyak tentang sepak terjang Naim beberapa bulan terakhir. Aris berjanji akan membicarakan kegusaran Dhaniati kepada Naim.

Puncak kekesalan dan kemarahan Dhaniati terjadi juga setelah lebih dari dua minggu dia tak dapat menghubungi Naim, bahkan ketika dia bertandang ke tempat kost Naim pun hasilnya nihil. Dia lalu meminta Aris untuk menemukan Naim dan memintanya untuk membuat pertemuan untuk mereka bertiga.

Kamu boleh datang ke tempat kostku besok jam 4 sore. Aku akan menjelaskan semuanya. Maafkan jika beberapa minggu terakhir ini aku menghilang.

Demikian bunyi pesan singkat yang diterima Dhaniati dari Naim. Rupanya Aris telah berhasil menemukan Naim dan menjelaskan semuanya.

“Dhani, maafkan aku. Aku seharusnya memberitahukan hal ini kepadamu lebih awal, tapi aku tak punya keberanian untuk itu,” Naim berkata pelan namun dengan suasana hati yang tak menentu.

Dijelaskannya kepada Dhaniati dan Aris yang juga hadir disitu tentang alasan dirinya harus memutuskan hubungannya dengan Dhaniati. Hatinya telah berpaling kepada yang lain. Hal itu disadarinya sejak enam bulan terakhir. Mendengar penjelasan Naim yang panjang lebar itu, Dhaniati hanya mampu menangis. Firasatnya selama ini benar.

“Lalu apakah dirimu telah memutuskan siapa yang akan engkau pilih? Siapa perempuan itu?” tanya Dhaniati terisak dan berusaha mengendalikan emosinya.

Kamu manis, Dhania,” kata Naim tersenyum ke Dhaniati. “Tapi, AKU MAU KAMU, TITIK,” Naim memandang ke Aris.

“Apa?! Apa maksudmu, Im?!” tanya Dhaniati bingung. Dipandangnya dua lelaki dihadapannya dengan perasaan dan pikiran yang tak menentu.

“Ya, sekarang namaku Naeema Aleyah, tepatnya semenjak dua minggu yang lalu,” jawab Naim.

35 thoughts on ““AKU MAU KAMU, TITIK.”

  1. hahahaha…pasti ada main sama admin 15HariNgeblogFF nih..cepet banget udah jadi..hahahaha…kayanya ada satu yang ketinggalan, Maryani binti H Mamun,,hahahahahahahahahahhahahahahahhahahahhahahhahahahahahaha…

    • hahahahahahahaahahahahahahahhahahaahahhahaahahhahahhahahahahaahahahahahhha….ini udah lama banget mau buat ceritanya Naeema Aleyah…hahahahahahhahahaahhaahahahhhhhha

      kalau begitu yg Maryani binti H Mamun nanti nyusul…wuakakakakakakaakakakakakakakakakaakakakakak

  2. baru sempat baca dan langsung ngakak sekencang-kencangnya.naima aliyah itu kayak dari itumur tengah, pasti operasi idung juga biar bangir dan matanya dibikin belo jadi cantiiiik hahahahahahahahhha

    • wah..wah…Erlinda….hahahahaahahahahahahahahahahahaahahahahahahahahahahahahahahahhaahhahaahahaha…*asli ngakak baca komentarmu soal operasi itu* =))=))

  3. Pingback: “Jadilah Milikku, Mau?” | Ingset's Blog

Thanks in advance either for having left a reply or liked my post :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s