“Dag dig dug!”


Pertemuanku dengan Nito terjadi kira-kira hampir setahun yang lalu, saat musim dingin merebak. Saat itu semuanya terasa biasa saja. Tak ada yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama. Biasa saja.

Awal pertemuan dan perkenalan kami dicomblangi oleh salah seorang sahabatku, Patricia. Nito adalah tetangga Patricia dan aku sering berkunjung ke rumah sahabatku sekurang-kurangnya dua kali dalam seminggu. Aku tak tahu apakah Nito pernah melihatku kala aku berkunjung ke rumah Patricia sehingga dia memintanya untuk memperkenalkan dirinya kepadaku, ataukah temanku sendiri yang berinisiatif memperkenalkan kami berdua. Entahlah. Hanya Patricia dan Tuhan yang tahu. Dia mengatakan kepadaku bahwa ada baiknya aku yang masih lajang ini berkenalan dengan banyak orang termasuk Nito, apalagi saat itu Nito tak ada yang punya.

Dari perkenalan itu, hubunganku dengan Nito semakin dekat. Dari hanya sekedar teman biasa menjadi teman tak biasa alias teman dekat. Itu terjadi pada masa perkenalan kami yang menginjak waktu tiga bulan. Rasa saling suka sepertinya mulai tumbuh di hati kami masing-masing.

Melihat kedekatan yang kami jalin bersama, Patricia mengusulkan kepadaku untuk tinggal serumah dengan Nito, biar bisa semakin akrab dan saling mengenal lebih dalam, katanya. Gila! Apa Patricia sudah gila?! Aku bukan bule seperti dia! Tapi entah kekuatan apa yang dipakai oleh Patricia, dia berhasil mempengaruhiku untuk tinggal serumah dengan Nito. Ataukah memang diriku saat itu sebenarnya sudah jatuh cinta kepada Nito sehingga rela mengorbankan akal sehatku? Entahlah.

Akhirnya Nito pun rela tinggal serumah denganku setelah Patricia berhasil membujuknya. Mungkin memang kewarasanku sudah hilang sehingga aku sangat menikmati keberadaan dan kehadiran Nito bersamaku setiap hari. Hari-hari kami penuh dengan canda tawa. Walau kami sudah tinggal serumah, namun aku memutuskan untuk tidak tidur seranjang dengannya.

Hingga pada suatu malam, Nito membuat jantungku berdegup kencang. Sorot matanya yang teduh dan penuh cinta seolah mengirim pesan kepadaku bahwa dia ingin tidur seranjang denganku. Jantungku benar-benar dibuat dag dig dug! Aku benar-benar terbius oleh tatapan matanya.

“Dag dig dug!” jantungku semakin berdebar cepat tatkala Nito dengan lembut mengecup jari jemariku, dan secara perlahan mengecup bibirku. Aku benar-benar tak tahan dibuatnya ketika dia mulai mencumbui tubuhku di atas sofa.

“Nitooooooooooo, berhenti!” teriakku pada Nito, kucing kesayanganku.

27 thoughts on ““Dag dig dug!”

    • kan kalau saya bilang Budi atau Owen udah pada ketebak ama kalian2x semua hahahahahahahahahahahahahhahahaa…kalau Nito kan pada demen..wuakakakakakakaakakakakakakakak

  1. Paragraf kedua ada yang janggal..

    …ada baiknya aku yang masih lajang ini berkenalan dengan banyak orang termasuk Nito, apalagi saat itu Nito tak ada yang punya.

    Nah.. Nito kan bukan orang? hehe..😀

    Tapi keren idenya..🙂

    • benar, mbak Rini…dan seekor kucing kan bisa menjadi teman penghibur meski tak harus lajang😀. Nito tak ada yg punya itu menjadi ‘tanda’ setelah ada endingnya…kalau saya tulis ‘termasuk Nito seekor kucing, maka ceritanya akan lain hehehehheehehe….

      tapi terimakasih atas kritiknya, mbak🙂

  2. Pingback: “Kamu manis, kataku.” | Ingset's Blog

Thanks in advance either for having left a reply or liked my post :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s